Orang Lamatuka adalah salah satu etnis di pulau Lembata yang memiliki nilai santun yang tinggi dan meraka menggunakan bahasa daerah yang agak berbeda dengan desa-desa yang lain terutama dialeknya terkesan lebih halus . Perlu diketahui bahwa di Pulau Lembata tidak ada satu bahasa daerah yang bisa digunakan untuk berkomunikasi sehingga bahasa indonesia sering dipakai untuk berkomunikasi antar wilayah.
Menurut cerita turun - temurun orang Lamatuka berasal dari sebuah pulau di sebelah timur pulau Lembata yaitu pulau “Lepanbatan Ruha rema” pendahulu-pendahulu itu menyelamatkan diri dari pulau Lepanbatan karena terjadi bencana alam yang sangat dasyat. Mereka bereksodus kepulau terdekat yaitu Lomlen yang dibawahi oleh seorang tokoh bernama ” Ama Dolu Sinu dan isterinya Ina Ema Hingi ” mereka terhimpun dalam satu keluarga besar yaitu Lamatuka. Mereka berlayar sampai ke teluk “Bobu” sebuah teluk di selatan pulau lembata, dan menyusuri sebuah Gua yang cukup besar sehingga mereka mengikiti jalur gua tersebut dan akhirnya mereka keluar disuatu wilayah pedalaman Lembata yaitu ” NUBA “ yang akhirnya dinamakan Nuba Dolusinu dan Ema Hingi. Dalam perjalan tersebut ada juga orang-orang yang mempunyai niat-niat yang berbeda dan cendrung menggunakan” kekuatan Hitam” untuk mengganggu sesama yang lain sehingga ” Ama Dolusinu ” mengambil sebuah keputusan untuk menutup Lobang tempat keluar dengan sebuah batu sehingga orang-orang tersebut tidak masuk dalam ethis Lamatuka. Hal ini terbukti bahwa dari keturun Lamatuka tidak ada orang yang mempunyai kekuatan Hitam atau dalam bahasa setempat “Emap’e”. akan tetapi muncul banyak tabib yang melakukan kegiatan secara sukarela untuk menyembuhkan pasien dengan bantuan Lelurur dari Nuba Dolusinu. Dari puncak nuba itulah awal ethis ini memulai suatu kehidupan yang baru dengan mendiami empat wilayah kampung yang berdekatan yaitu: Besei , Lebelang, Benalar dan Hidalabi.
Puncak Nuba Dolusinu ini menjadi suatu tempat yang memperstukan Lima Marga besar orang Lamatuka yaitu : Tukan, Lasar, Ruing, Lewuras dan Lengari, dengan melakukan ritual adat ditempat ini. Hal ini menjadi dogma turun temurun yang diteruskan sampai sekarang dan Nuba Dolusinu menjadi tempat yang sakral untuk orang Lamatuka.
Di Puncak ini dilakuakan perpaduan antara ritual Agama dan budaya lokal dengan didirikan sebuah gua Maria yang disebut “Gua Pae Hati “ dan ditempat ini selalu dilakukan upacara syukur setiap tahun oleh Gereja pada bulan Desember yang selalu dihadiri oleh para pejabat Kabupaten Lembata. Anak- anak Lamatuka sekarang sudah tersebar diberbagai daerah dengan kehidupan yang berbeda tentunya tetapi nilai-nilai luhur dari puncak Nuba selalu tertanam dalam hati setiap orang.