Feb
25
2009
2

Pertobatan

Posting ini saya tulis di sebuah warnet saat berada di kupang.

Pada sebuah permenungan tentang ” makna pertobatan ” saya jadinya susah tidur dan beruntung seorang teman datang ke kamar hotel lalu kami mencari warnet saya ingin menulis untuk membantu saya keluar dari permenungan ini.

Pertobatan adalah Sebuah kata yang sangat mudah diucapkan. Terkadang kita berjanji sesuatu kepada Tuhan bila kita dalam suatu masalah akan tetapi begitu mudah mengingkarinya ketika berada dalam suatu zona nyaman. Kita lupa bahwa kita pernah berjanji…bisa dibayangkan kalau mengingkari janji terhadap orang yang kita sayangi, itu sangat sulit untuk diterima. Lalu bangaimana dengan ingkar terhadap sang pencipta, bukan kah itu lebih konyol.

Hari ini Rabu tanggal 25 Februari 2009 merupakan hari pertama bagi umat Katolik memulai memasuki masa prapaskah tahun 2009 yang ditandai dengan penerimaan abu di dahi sebagai tanda pertobatan.

Semoga dimasa pertobatan ini membawah kita pada kemenangan dalam merayakan hari kebangkitan Tuhan Yesus (”paskah”} dan tentunya harus selalu diingat untuk tidak mengulangi kesalahan atau kelemahan manusia yang sering kita buat baik sengaja maupun tidak. Manusia selalu menjastifikasi setiap kesalahannya dengan mengatakan bahwa kita adalah “manusia lemah yang tidak luput dari salah dan dosa ” karena kita mengandalkan kekuatan ” daging ” padahal untuk memproteksi diri manusia harus memerlukan kekuatan ” Roh kudus ” yang senan tiasa membimbing dan mengarakan manusia kejalan yang benar.

Yang mengusik perasaan saya adalah mengapa kita begitu mudah berjanji kepada Tuhan dan begitu cepatnya kita melupakan janji tersebut, pada hal Dia begitu baik pada Kita.

Selamat menjalankan masa puasa, Tuhan Yesus Memberkati…

Written by hendrik in: Spritualitas |
Feb
17
2009
1

Dunia Pendidikan di Desa dan Perkotaan

Di saat visit ke desa di sebuah wilayah dampingan organisasi saya, yaitu desa TES di kabupaten Timor Tengah Utara . Kami mengunjungi sebuah sekolah dasar yang merupakan kelas jauh di kampung lama desa TES.Bangunan sekolah ini sangat darurat dan  sangat tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar.

Sebuah proyek yang sedang dikerjakan sebagai jawaban nyata dari lembaga kami untuk membangun dua lokal ruang kelas sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak.

 

 

Pada saat istirahat di gubuk sekolahan darurat ini dan memperhatikan tulisan-tulisan yang masih tersisa di papan tulis, sangat tergambar dengan jelas betapa kualitas guru masih harus terus ditingkatkan.

 

Yang membuat terharu yaitu antusias anak-anak untuk sekolah sangat tinggi walau dalam kondisi yang terbatas. Kalau kita bayangkan betapa kacaunya pendidikan di kota dengan perkelahian antara siswi atau antara Geng serta maraknya Bolos sekolah dll. Sangat memprihatinkan…pertanyaannya adalah apakah ini membuktikan gagalnya dunia pendidikan di Indonesia ? tentu tidak… akan tetapi menurut saya ini menunjukan prioritas pendidikan yang belum jelas karena pendidikan yang berlangsung hanya tertujuh kepada satu kecerdasan yaitu

Kecerdasan Pikiran ( IQ ) pada hal untuk mencapai manusia yang berkualitas kecerdasan Pikiran ( IQ ) hanya berkontribusi tidak lebih dari 20 % menurut penelitian .Sehingga untuk mencapai keberhasilan seseorang harus memiliki kecerdasan yang lain. Dunia pendidikian di Indonesia belum mengarah kepada kecerdasan Emosional ( EQ ) dan Kecerdasan Spiritualitas ( ESQ ) hal ini terbukti dari kualifikasi kelulusan hanya dinilai dari hasil ujian akhir. Pada hal untuk mencapai kualitas dan keberhasilan seseorang harus memiliki tiga kecerdasan yaitu kecerdasan Pikiran ( IQ ), Kecerdasan Emosional ( EQ ) dan Kecerdasan Spiritualitas ( ESQ ).

 

Jika kita bandingkan siswa di kota dan di desa maka sangat jelas bahwa anak-anak di kota lebih memiliki kecerdasan pikiran sedangkan di desa karena keterbatasan sarana dan prasarana serta rendahnya kualitas guru maka mereka masih jauh jika dibandingkan dengan anak-anak kota. Akan tetapi anak-anak di desa lebih memiliki dua kecerdasan yang lain yaitu kecerdasan Emosional ( EQ ) dan kecerdasan Spiritual atau Moral ( ESQ ).

 

Mengapa akhir-akhir ini sering terdengar perkelahian antara Siswa-siswi di perkotaan ? hanya ada satu jawaban yang dapat saya sampaikan yaitu : Pendidikan di Kota kurang mengarahkan anak pada pendidikan tentang kecerdasan Emosional ( EQ ) dan Pendidikan tentang kecerdasan Spiritualitas atau Moral ( ESQ ).

Written by hendrik in: Opini |
Feb
16
2009
2

Timor-Timur Satu Menit Terakhir

Sungguh sangat mengesankan buku yang di tulis oleh seorang Rien Kuntari mengulas tuntas pristiwa bersejarah lepasnya Si bungsu Timor-Timur menjadi sebuah negara yang merdeka. Awalnya saya hanya mendengar cerita dari seorang teman  tetapi saya kurang berminat apa lagi penulis adalah seorang wartawan yang menurut saya selalu membesar-besarkan sebuah informasi untuk menarik pembaca.

Karena beberapa hari Libur sehingga saya menerima tawaran untuk membaca buku ini, ya sekedar mengisih waktu libur. Dan ketika membaca buku ini saya sangat penasaran bahkan terkesan memaksakan diri untuk tetap membaca hingga selesai.

Buat teman-teman yang punya pengalaman khusus di Timor-Timur mungkin buku ini dapat membuka kembali semua kenagan baik yang tragis maupun yang  menyenangkan.

“Timor-Timur Satu Menit Terakhir” Seolah mengingatkan aku kembali kepada masa-masa sulit 3 tahun di Baucau banyak kajadian yang sulit untuk di lupakan. Suara tembakan, Mercado terbakar, Penculikan, Penghadangan dll.

Ternyata saya membutuhkan waktu 3 hari untuk membaca buku ini.. saya terkesan dengan keberanian si penulis yang mengulas tuntas tanpa ditutup-tutupi kenyataan yang ada.

Written by hendrik in: Opini |

Powered by WordPress | Aeros Theme | TheBuckmaker.com