Jun
20
2009
0

Refleksi Pendidikan di Sikka

Dalam suatu perjalan tugas ke Desa Bhera dusun Liatobo, saya sempat berpikir sampai kapan ya  Dusun ini ” merdeka ” dalam artian bebas dari terisolasi  dunia transportasi.

kami menyusuri jalan setapak dengan pendakian yang cukup melelahkan dan akhirnya sampai juga di Puncak Liatobo. Tampak sebuah sekolah Kelas Jauh yang sedang di bagun oleh Lembaga saya untuk menyukseskan dunia pendidikan di Kab. Sikka. Sebelumnya anak-anak bersekolah di sebuah sekolah darurat dengan perabot darurat pula.

Saya berpikir…di saat kita berbicara tentang kualitas pendidikan, namun disisilan kita mengabaikan sarana prasarana sekolah , saat kita membanggakan “KBK “dan KTSP” tetapi kita lupa meningkatkan kualitas Guru, dan disaat ujian nasional distandarkan maka hancurlah tingkat kelulusan di NTT. mengapa ??

Saya melihat bahwa ini bukan ujian akhir Nasional bagi siswa melainkan ujian akhir Nasional Bagi guru-guru, karena pembuatan kurikulum dilakukan oleh Guru-guru di daerah  tetapi soal ujian akhir Nasional dibuat dari PUsat.

Pemerintah Kerap kali menilai peningkatan kualitas guru selalu identik dengan kenaikan Gaji sang Guru .  Pada hal gaji tidak menambah pengetahuan bagi guru, hanya dengan melakukan pelatihan, lokakarya, study banding dll. yang berhubungan dengan pengembangan pengetahuan dan kepribadiannya. Ini lah  yang justru selalu di abaikan.

Saat konsolidasi Program antara Pemerintah Kab. Sikka dan LSM , Data BPS menyebutkan angka Buta huruf di kabupaten Sikka Masih cukup tinggi. Dan saya berpikir ya jelaslah bayangkan Anak-anak yang tinggal Di Liatobo harus bersekolah ke Bhera yang menempuh sekitar 4 KM mendaki dan menurun setiap hari.

Dan masih terlalu banyak Desa yang sangat terisolasi terutama dalam akses pendidikan. Harusnya Sekolah “ satu atap “ dapat memberikan Solusi bagi tingginya tingkat Drop Out di Kabupaten Sikka.

Written by hendrik in: Opini |

Powered by WordPress | Aeros Theme | TheBuckmaker.com